Logo-Pakpol Logo-Pakpol
Data & Alat
Rabu, 26 Februari 2025 | 08:15 WIB
KURS PAJAK 26 FEBRUARI 2025 - 04 MARET 2025
Rabu, 19 Februari 2025 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 19 FEBRUARI 2025 - 25 FEBRUARI 2025
Rabu, 12 Februari 2025 | 09:27 WIB
KURS PAJAK 12 FEBRUARI 2025 - 18 FEBRUARI 2025
Rabu, 05 Februari 2025 | 11:07 WIB
PAJAK MINIMUM GLOBAL
Fokus
Reportase

Optimalisasi Penerimaan Negara, Prabowo Bakal Tambah 1 Wamenkeu

A+
A-
3
A+
A-
3
Optimalisasi Penerimaan Negara, Prabowo Bakal Tambah 1 Wamenkeu

JAKARTA, DDTCNews – Presiden terpilih Prabowo Subianto berencana menambah 1 wakil menteri keuangan untuk mendampingi Sri Mulyani dalam meningkatkan penerimaan negara. Topik tersebut menjadi salah satu ulasan media nasional pada hari ini, Rabu (16/10/2024.)

Kemarin, Prabowo telah memanggil 3 calon wakil menteri keuangan, yaitu Wakil Menteri Keuangan I Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono, dan mantan kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu.

Anggito menjelaskan Prabowo meminta ketiga calon wakil menteri keuangan (wamenkeu) untuk dapat membantu kelancaran tugas dari menteri keuangan. Salah satu tugas yang diberikan Prabowo adalah mengoptimalkan penerimaan negara.

Baca Juga: Negara Tetangga Ini Bakal Berlakukan Pajak Turis pada Akhir Tahun

"Beliau tadi menyebutkan Kamboja [memiliki rasio penerimaan negara sebesar] 18%. Nah, kami diminta untuk melakukan segala upaya, strategi, dan tata cara maupun kebijakan untuk mencapai tujuan tersebut," katanya.

Menteri keuangan bersama ketiga wamenkeu pun diminta untuk segera menyiapkan program-program strategis dalam meningkatkan penerimaan negara sehingga setara dengan beberapa negara lain.

Sri Mulyani sebelumnya telah diminta Prabowo untuk kembali menjadi menteri keuangan. Dia diberi tugas untuk memperkuat Kementerian Keuangan dan keuangan negara sehingga dapat mendukung pelaksanaan program yang diusung.

Baca Juga: Pemeriksaan Terfokus, Pemeriksa Wajib Sampaikan Pos SPT yang Diperiksa

Penguatan keuangan negara ini utamanya dilaksanakan dari sisi pajak, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak. Prabowo juga meminta kualitas belanja kementerian/lembaga dan transfer ke daerah ditingkatkan sehingga dampaknya bisa dirasakan masyarakat.

Selain pemanggilan 3 calon wamenkeu, ada pula ulasan mengenai kinerja PPN di Indonesia dan kapasitas APBN 2025 dalam menyambut kabinet Prabowo. Ada juga bahasan mengenai tantangan meningkatkan rasio pajak.

Berikut ulasan artikel perpajakan selengkapnya.

Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Selain optimalisasi penerimaan negara, ketiga calon wamenkeu juga diminta untuk menggerakkan APBN sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga: Sengketa PPN atas Penyerahan Jasa Asuransi Unit Link

Wakil Menteri Keuangan I Suahasil Nazara menyatakan siap melanjutkan tugasnya saat ini untuk menjaga keuangan negara. Melalui instrumen fiskal, pemerintah akan terus mendorong pembangunan melalui penciptaan investasi dan mendukung sektor-sektor ekonomi.

“Kami akan menjaga keuangan negara, mendorong pembangunan, menciptakan investasi, dan mendukung sektor ekonomi ke depan,” katanya. (DDTCNews/Kontan)

APBN 2025 Siap Tampung Kabinet Prabowo

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan penyusunan APBN 2025 telah mengantisipasi rencana presiden terpilih Prabowo Subianto untuk pembentukan kabinet yang lebih gemuk.

Baca Juga: Apa Itu Pemeriksaan Fisik Barang Impor?

Sri Mulyani mengatakan APBN 2025 telah menyediakan ruang fleksibilitas jika terdapat penambahan kementerian dalam kabinet Prabowo. Menurutnya, antisipasi penambahan kementerian ini menjadi bentuk dukungan APBN terhadap program yang diusung Prabowo.

"Sebetulnya di dalam APBN beberapa antisipasi terhadap program-program dari presiden, termasuk dari sisi line up kabinetnya, itu sudah dilakukan," katanya. (DDTCNews)

Program BDS Bisa Tingkatkan Kepatuhan Sukarela Wajib Pajak UMKM

Pemerintah telah memberikan berbagai dukungan untuk pengembangan UMKM, termasuk pengenaan tarif pajak yang rendah serta metode penghitungan yang sederhana.

Baca Juga: Simak! Daftar Peraturan Perpajakan yang Terbit sepanjang Februari 2025

Penyuluh Pajak Ahli Madya Direktorat P2 Humas DJP Yudha Wijaya mengatakan DJP saat ini juga memiliki Business Development Services (BDS) sebagai program pembinaan dan pengembangan usaha khusus untuk UMKM.

Menurutnya, pengenaan tarif pajak rendah dan pelaksanaan program BDS pada akhirnya bakal meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak UMKM. (DDTCNews)

Kinerja PPN di Indonesia Masih Rendah

Kinerja PPN Indonesia dinilai masih rendah dan tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Hal ini menjadi latar belakang pengaturan kembali kebijakan PPN, termasuk kenaikan tarif PPN, sebagaimana diatur dalam UU HPP.

Baca Juga: Hati-Hati Penipuan Berkedok Pemutakhiran Data NPWP via Coretax

Rendahnya kinerja PPN itu tecermin dari angka C-efficiency yang tercatat hanya sebesar 63,58% pada 2018. Level itu di bawah Singapura dan Thailand yang masing-masing sebesar 92,69% dan 113,83%.

Fungsional Penyuluh Pajak Ahli Madya DJP Kanwil Banten Dedi Kusnadi menyatakan Indonesia baru mengumpulkan 63,58% dari PPN yang seharusnya bisa dipungut. (Kontan)

Sektor Informal Jadi Salah Satu Faktor Sulitnya Meningkatkan Rasio Pajak

Fuad Rahmany, Dirjen Pajak periode 2011-2014, menilai persoalan sulitnya untuk meningkatkan rasio perpajakan (tax ratio) jauh lebih kompleks. Salah satu faktor yang membuat tax ratio Indonesia dalam 1 dekade stagnan di posisi 10% ialah struktur ekonomi nasional yang didominasi sektor informal.

Baca Juga: Bangun Usaha di Kawasan Industri? Ini Menu Insentif Perpajakannya

Dia menyebutkan negara-negara dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor formal seperti AS dan Inggris memiliki tax ratio di atas 30%.

“Berkaca dari negara-negara lain di dunia, tax ratio dari negara-negara yang struktur ekonominya didominasi sektor informal memang tidak bisa besar-besar amat,” tuturnya. (Kompas)

Baca Juga: Ajak WP Segera Lapor SPT Tahunan, Jonatan Christie: Jangan Ditunda

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : berita pajak hari ini, penerimaan negara, pajak, cukai, bea, rasio pajak, PPN, program BDS, kepatuhan sukarela

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 27 Februari 2025 | 20:30 WIB
KEPATUHAN PAJAK

WP Perlu segera Lapor SPT Tahunan, Ada Sanksi yang Dibayar Kalau Telat

Kamis, 27 Februari 2025 | 20:00 WIB
PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Ada Insentifnya, Pemprov Harap Investor Buka Kantor dan Kantongi NPWPD

Kamis, 27 Februari 2025 | 19:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Kemenaker Usul Pegawai Padat Karya yang Dapat Insentif Pajak Diperluas

Kamis, 27 Februari 2025 | 19:00 WIB
TIPS PAJAK

Cara Unduh Bukti Potong 1721-A1 bagi Pegawai di DJP Online

berita pilihan

Jum'at, 28 Februari 2025 | 19:30 WIB
THAILAND

Negara Tetangga Ini Bakal Berlakukan Pajak Turis pada Akhir Tahun

Jum'at, 28 Februari 2025 | 19:00 WIB
PMK 15/2025

Pemeriksaan Terfokus, Pemeriksa Wajib Sampaikan Pos SPT yang Diperiksa

Jum'at, 28 Februari 2025 | 17:03 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPN atas Penyerahan Jasa Asuransi Unit Link

Jum'at, 28 Februari 2025 | 17:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu Pemeriksaan Fisik Barang Impor?

Jum'at, 28 Februari 2025 | 16:30 WIB
REKAP PERATURAN

Simak! Daftar Peraturan Perpajakan yang Terbit sepanjang Februari 2025

Jum'at, 28 Februari 2025 | 16:00 WIB
LAYANAN PAJAK

Hati-Hati Penipuan Berkedok Pemutakhiran Data NPWP via Coretax

Jum'at, 28 Februari 2025 | 15:30 WIB
RPJMN 2025-2029

Masuk RPJMN 2025-2029, Pertumbuhan Ekonomi 2029 Ditarget Tembus 8%

Jum'at, 28 Februari 2025 | 15:21 WIB
KONSULTASI PAJAK

Bangun Usaha di Kawasan Industri? Ini Menu Insentif Perpajakannya

Jum'at, 28 Februari 2025 | 15:00 WIB
SELEBRITAS

Ajak WP Segera Lapor SPT Tahunan, Jonatan Christie: Jangan Ditunda

Jum'at, 28 Februari 2025 | 14:30 WIB
KEP-67/PJ/2025

Tak Kena Sanksi! PPh Masa Januari 2025 Disetor Paling Lambat Hari Ini