Logo-Pakpol Logo-Pakpol
Literasi
Jum'at, 18 April 2025 | 15:30 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Kamis, 17 April 2025 | 17:00 WIB
TIPS PAJAK DAERAH
Kamis, 17 April 2025 | 14:00 WIB
KELAS PPh Pasal 21 (12)
Selasa, 15 April 2025 | 18:15 WIB
KETUA MA 1974-1982 OEMAR SENO ADJI:
Fokus
Reportase

Ada Diskon Tarif Listrik, Januari 2025 Alami Deflasi 0,76 Persen

A+
A-
0
A+
A-
0
Ada Diskon Tarif Listrik, Januari 2025 Alami Deflasi 0,76 Persen

Ilustrasi. Warga memeriksa meteran listrik di Rusunawa Kaujon, Kota Serang, Banten, Jumat (24/1/2025). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/tom.

JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi pada Januari 2025 secara bulanan sebesar 0,76%. Deflasi ini terjadi karena didorong oleh kebijakan pemberian diskon tarif listrik.

Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan deflasi pada Januari 2025 secara bulanan disumbang dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yakni sebesar 9,16% dan memberikan andil terhadap deflasi 1,44%.

"Komoditas penyumbang utama deflasi pada kelompok ini adalah tarif listrik," katanya, Senin (3/2/2025).

Baca Juga: Kemenkeu Vietnam Bakal Pangkas Tarif Bea Masuk untuk 10 Barang Ini

Perlu diketahui, pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50% untuk daya 2.200 VA ke bawah pada Januari dan Februari 2025. Insentif tersebut menyasar sekitar 81,4 juta pelanggan listrik.

Selain perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, deflasi juga terjadi pada kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Deflasi kelompok pengeluaran ini sebesar 0,08% dan memberikan andil terhadap deflasi 0,01%.

Deflasi tahun kalender pada Januari 2025 sebesar 0,76%, sedangkan inflasi tahun ke tahunnya sebesar 0,76%. Tingkat inflasi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun lalu, yaitu masing-masing 1,57% dan 2,57%.

Baca Juga: Ada Insentif Pajak untuk Perusahaan yang Pakai Bus dan Truk Listrik

Menurut Amalia, makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi kelompok pengeluaran dengan andil terbesar untuk inflasi tahunan pada Januari 2025. Inflasi kelompok pengeluaran ini mencapai 3,69% dan memberikan andil sebesar 1,07% terhadap inflasi umum.

Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar kepada kelompok tersebut ialah minyak goreng dengan andil sebesar 0,14% serta sigaret kretek mesin dengan andil sebesar 0,12%. Setelahnya, cabai rawit, kopi bubuk, dan beras juga memberikan andil inflasi.

Selain itu, komoditas lain di luar makanan, minuman, dan tembakau yang turut memberikan andil inflasi cukup besar ialah emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,36%.

Baca Juga: DPR Khawatir Efek Lemahnya Daya Beli Merembet ke Kinerja Cukai Rokok

Di sisi lain, terdapat 2 kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yakni perumahan, air, listrik, dan bahan bakar, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar mengalami deflasi sebesar 8,75% dan memiliki andil terhadap deflasi 1,39%. Adapun deflasi ini dikarenakan adanya kebijakan tarif listrik pada Januari 2025.

Berdasarkan komponennya, Amalia menjelaskan inflasi terjadi pada seluruh komponen kecuali harga diatur pemerintah. Komponen inti pada Januari 2025 mengalami inflasi tahunan sebesar 2,36% dengan andil terhadap inflasi mencapai 1,51%.

Baca Juga: Meluruskan Fungsi Pengadilan Pajak sebagai Lembaga Yudisial

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, kopi bubuk, dan nasi dengan lauk.

Setelahnya, komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi 6,41%, dengan andil terhadap deflasi 1,26%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen ini adalah tarif listrik.

Untuk komponen harga bergejolak, terjadi inflasi sebesar 3,07% dengan andil inflasi 0,51%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah cabai rawit, beras, ikan segar, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

Baca Juga: Pungutan Windfall Tax Diperpanjang 3 Tahun, Perbankan Kompak Protes

Amalia menyebut sebanyak 30 provinsi di Indonesia tercatat mengalami inflasi, sedangkan 8 lainnya deflasi pada Januari 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 4,55% dan deflasi terdalam di Gorontalo sebesar 1,52%. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : deflasi, bps, diskon tarif listrik, bahan bakar, hasil tembakau, ekonomi, nasional

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 16 April 2025 | 17:30 WIB
PMK 81/2024

Surat Setoran Pajak Tak Lagi Jadi Bukti Pemungutan PPh Pasal 22

Rabu, 16 April 2025 | 13:53 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perlu Justifikasi yang Tepat untuk Adakan Tax Amnesty Lagi

Rabu, 16 April 2025 | 12:30 WIB
AMERIKA SERIKAT

Trump Ancam Status Bebas Pajak Universitas Harvard Dicabut, Ada Apa?

Rabu, 16 April 2025 | 12:00 WIB
LAPORAN KINERJA DJBC 2024

DJBC Sebut Sengketa Perpajakan Akibat Impor Produk IT Cukup Tinggi

berita pilihan

Sabtu, 19 April 2025 | 16:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Ingat Lagi Ketentuan Pengkreditan Pajak Masukan sebelum Pengukuhan PKP

Sabtu, 19 April 2025 | 14:00 WIB
PROVINSI SULAWESI TENGAH

Ada Pemutihan! Kendaraan Mati 10 Tahun, Cukup Bayar 1 Tahun Saja

Sabtu, 19 April 2025 | 11:35 WIB
KOLABORASI LeIP-DDTC

Gratis 25 Buku Terbaru DDTC untuk PERTAPSI! Beri Komentar Terbaik Anda

Sabtu, 19 April 2025 | 11:30 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Siapa yang Masuk Keluarga Sedarah dan Semenda dalam Aturan Pajak?

Sabtu, 19 April 2025 | 10:30 WIB
PMK 81/2024

Ketentuan PPh atas Pengalihan Partisipasi Interes, Apa yang Berubah?

Sabtu, 19 April 2025 | 10:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

WP Badan Masih Bisa Perpanjang Waktu Lapor SPT Tahunan, Tambah 2 Bulan

Sabtu, 19 April 2025 | 09:30 WIB
PENERIMAAN PERPAJAKAN

DPR Khawatir Efek Lemahnya Daya Beli Merembet ke Kinerja Cukai Rokok